Sunday, September 9, 2012

Proses Tercipta Tanah SUNDA




Dasar pedoman Sunda Tentang Proses Penciptaan & Dinamikanya

Sebetulnya mengenai proses terjadinya Tataran Sunda banyak ilmu dari berbagai sudut pandang, baik dari teori ilmu pengetahuan yang diambil dari berbagai budaya yang ada ditanah sunda sendiri maupun pitutur dari para sesepuh yang cara menyampaikannya diiringi dengan pituah dan wejangan kepada generasi berikut yang bisa dipelajari sebagai pedoman dan landasan Kebangsaan, Kemasyarakatan dan Kemanusiaan.

Adapun mengenai artikel ini ditulis adalah sebagai pengingat kepada generasi muda khususnya kawula muda dari bumi parahiyangan bahwa selain mempelajari sumber ilmu tentang pemahaman proses terjadinya tanah leluhur ‘tataran sunda’ secara teori ilmu pengetahuan, ada pengetahuan yang selama ini terlupakan, bahwa ada pitutur dan tuntunan para sesepuh yang mempunyai makna tersendiri dalam penerimaan tuntunan yang disampaikan, karena diperlukan pemahaman secara bathiniah untuk mengerti dari maksud wejangan tersebut.


Kalua kita cermati secara logika, memang sungguh diluar nalar yang masuk akal. Dan kita akan mengalami kesulitan untuk memahami dari pesan yang di maksud. Berikut adalah beberapa makna dari pitutur para leluhur;

Tuntunan para sesepuh tentang proses terjadinya Tataran Sunda & Jagad Bumi

Asal mula bumi menurut babad leluhur
Awalnya Yang Maha Kuasa membentuk “Jagat Suwung”, yaitu ‘sesuatu’ yang gelap, kosong, hening. Tidak ada barat, timur, utara, selatan, singkatnya... sebuah keadaan yang sulit terciptakan (cipta = pikir).

Tahap selanjutnya Yang Maha Kuasa menghadirkan suatu suara seperti “Tawon Laksaketi” (berjuta-juta tawon) yang berbunyi “Huuuung...”. Dunia ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai “Suara Kosmik”.

Dari pusat suara munculah jentik-jentik sinar cemerlang “Hyang Putih / Ingyang Putih” sebesar ‘sayap nyamuk’. Dalam bahasa ilmu pengetahuan modern model ini disebut “molekul cahaya”. Semakin lama semakin menggumpal, membesar dan terus membesar.

Gumpalan, kumpulan molekul (atom ?) itu semakin lama semakin besar dan memadat maka jadilah “Sang Hyang Tunggal”, sebuah sumber cahaya gemilang yang agung dan suci serta tidak ada bandingnya.
Atas kehendaknya (Yang Maha Kuasa ?), Sang Hyang Tunggal memecah dirinya menjadi beberapa bagian dan menyebar di Jagat Suwung. Ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai “Big Bang”, istilah itu dipelopori oleh Stephen Hawking.

Pecahan dari Sang Hyang Tunggal menyebar mengisi Jagat Suwung dan kembali menjadi jentik-jentik sinar yang berpencar. Saat ini kita mengenalnya dalam tiga (3) kelompok : Kartika (Bintang), Surya (Matahari), Chandra(Bulan) atau sering disebut sebagai susunan “Tata Surya”.

Salah satu dari milyaran tata surya pengisi Jagat Suwung adalah Matahari kita yang dikelilingi oleh planet-planet, dan planet-planet tersebut pun hasil pemisahan (ledakan) dari Matahari itu sendiri.
Maka, Matahari kita itu merupakan putra dari Sang Hyang Tunggal dan atau cucu dari Hyang Putih.
Matahari dikenal sebagai Sang Hyang Manon atau lebih populer disebut Batara Guru yang artinya adalah “yang senantiasa memberikan / menyampaikan penerang sebagai cahaya kehidupan (*gerak)”.

Arti Kata “Sunda” menurut para sesepuh dan Leluhur

Matahari adalah “api sejati yang sangat besar” dan dituliskan dalam susunan kata SU (sejati) – NA (api / geni / agni) – DA (agung / besar / gede) atau sering disebut sebagai SUNDA.
Kita dapat menemukan istilah “Sunda” dalam beberapa penamaan seperti;Gunung Sunda (+Purba), Selat Sunda, Sunda-Ra, Kepulauan Sunda Besar – Sunda Kecil, dst. Bahkan seorang filsuf Yunani, Plato menyebutnya sebagai Sunda-Lan atau Ata-Lan atau boleh jadi artinya sama dengan Atlan (Atlantis).
Maka, Sunda sama sekali bukan nama sebuah ras atau suku pun etnis, apalagi hanya berupa batas wilayah sebesar Jawa-Barat. Sebab, Sunda merupakan tatanan besar yang berlandas kepada nilai-nilai filosofis “ke-Matahari-an”.

Betul bahwa pusat “Sunda” itu ada di Jawa Barat hal tersebut karena keberadaanGunung Sunda Purba / Gunung Matahari / Gunung Batara Guru / Gunung Cahaya, dalam bahasa Yunani kuno disebut sebagai Gunung Olympia(Olympus = Cahaya) dikenal sebagai tempat tinggal para dewa. Hal ini pula yang menyebabkan mayoritas wilayah di Jawa-Barat menggunakan istilah “Ci” artinya “Cahaya”. Istilah ”Ci” tentu tidak sama dengan “Cai” yang berarti kemilau yang dipantulkan dari permukaan tirta / banyu / apah / air.






Para Leluhur dan Keruhun Sunda

Dibawah ini saya lampirkan nama nama para karuhun dan leluhur orang sunda. Kepada para leluhur dan keruhun dalam salah menyebut nama dan tempat atau tidak tersebut namanya, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya.

Berikut adalah Nama -nama para leluhur dan keruhun tersebut;
Wangsit hiji

1. Pangeran Jayakarta (Rawamangun Jakarta)
2. Eyang Prabu Kencana (Gunung Gede, Bogor)
3. Syekh Jaenudin (Bantar Kalong)
4. Syekh Maulana Yusuf (Banten)
5. Syekh Hasanudin (Banten)
6. Syekh Mansyur (Banten)
7. Aki dan Nini Kair (Gang Karet Bogor)
8. Eyang Dalem Darpa Nangga Asta (Tasikmalaya)
9. Eyang Dalem Yuda Negara (Pamijahan Tasikmalaya)
10. Prabu Naga Percona (Gunung Wangun Malangbong Garut)
11. Raden Karta Singa (Bunarungkuo Gn Singkup Garut)
12. Embah Braja Sakti (Cimuncang, Lewo Garut)
13. Embah Wali Tangka Kusumah (Sempil, Limbangan Garut)
14. Prabu Sada Keling (Cibatu Garut)
15. Prabu Siliwangi (Santjang 4 Ratu Padjadjaran
16. Embah Liud (Bunarungkup, Cibatu Garut)
17. Prabu Kian Santang (Godog Suci, garut)
18. Embah Braja Mukti (Cimuncang, Lewo Garut)
19. Embah Raden Djaenuloh (Saradan, Jawa Tengah)
20. Kanjeng Syekh Abdul Muhyi (Pamijahan Tasikmalaya)
21. Eyang Siti Fatimah (Cibiuk, Leuwigoong Garut)
22. Embah Bangkerong (Gunung Karantjang)
23. Eyang Tjakra Dewa (Situ Lengkong, Pandjalu Ciamis)
24. Eyang Prabu Tadji Malela (Gunung Batara Guru)
25. Prabu Langlang Buana (Padjagalan, Gunung Galunggung
26. Eyang Hariang Kuning (Situ Lengkong Pandjalu Ciamis)
27. Embah Dalem Salinggih (Cicadas, Limbangan Garut)
28. Embah Wijaya Kusumah (Gunung Tumpeng Pelabuhan Ratu)
29. Embah Sakti Barang (Sukaratu)
30. Syekh Abdul Rojak Sahuna (Ujung Kulon Banten)
31. Prabu Tjanar (Gunung Galunggung)
32. Sigit Brodjojo (Pantai Indramayu)
33. Embah Giwangkara (Djayabaya Ciamis)
34. Embah Haji Puntjak (Gunung Galunggung)
35. Dewi Tumetep (Gunung Pusaka Padang, Ciamis)
36. Eyang Konang Hapa (Dayeuh Luhur, Sumedang)
37. Embah Terong Peot (dayeuh Luhur, Sumedang)
38. Embah Sayang Hawu (Dayeuh Luhur, Sumedang)
39. Embah Djaya Perkasa (Dayeuh Luhur, Sumedang)
40. Prabu Geusan Ulun (Dayeuh Luhur, Sumedang)
41. Nyi Mas Ratu Harisbaya (Dayeuh Luhur, Sumedang)
42. Eyang Anggakusumahdilaga (Gunung Pusaka Padang Ciamis)
43. Eyang Pandita Ratu Galuh Andjarsukaresi (Nangerang)
44. Embah Buyut Hasyim (Tjibeo Suku Rawayan, Banten)
45. Eyang Mangkudjampana (Gunung Tjakrabuana, Malangbong Garut)
46. Embah Purbawisesa (Tjigorowong, Tasikmalaya)
47. Embah Kalidjaga Tedjakalana (Tjigorowong, Tasikmalaya)
48. Embah Kihiang Bogor (Babakan Nyampai, Bogor)
49. Aki Wibawa (Tjisepan, Tasikmalaya)
50. Embah wali Mansyur (Tomo, Sumedang)
51. Prabu Nagara Seah (Mesjid Agung Tasikmalaya)
52. Sunan Rumenggang (Gunung Batara Guru)
53. Embah Hadji Djaenudin (Gunung Tjikursi)
54. Eyang Dahian bin Saerah (Gunung Ringgeung, Garut)
55. Embah Giwangkarawang (Limbangan Garut)
56. Nyi Mas Layangsari (Gunung Galunggung)
57. Eyang Sunan Cipancar (Limbangan garut)
58. Eyang Angkasa (Gunung Kendang, Pangalengan)
59. Embah Kusumah (Gunung Kendang, Pangalengan)
60. Eyang Puspa Ligar (Situ Lengkong, Panjalu Ciamis)
61. Kimandjang (Kalapa 3, Basisir Kidul)
62. Eyang Andjana Suryaningrat (Gunung Puntang Garut)
63. Gagak Lumayung (Limbangan Garut)
64. Sri Wulan (Batu Hiu, Pangandaran Ciamis)
65. Eyang Kasepuhan (Talaga Sanghiang, Gunung Ciremai)
66. Aki Manggala (Gunung Bentang, Galunggung)
67. Ki Adjar Santjang Padjadjaran (Gunung Bentang, Galunggung)
68. Eyang Mandrakuaumah (Gunung Gelap Pameungpeuk, Garut)
69. Embah Hadji Muhammad Pakis (Banten)
70. Eyang Boros Anom (Situ Lengkong, Pandjalu Ciamis)
71. Embah Raden Singakarta (Nangtung, Sumedang)
72. Raden Rangga Aliamuta (Kamayangan, Lewo-Garut)
73. Embah Dalem Kasep (Limbangan Garut)
74. Eyang Imam Sulaeman (Gunung Gede, Tarogong)
75. Embah Djaksa (Tadjursela, Wanaraja)
76. Embah Wali Kiai Hadji Djafar Sidik (Tjibiuk, Garut)
77. Eyang Hemarulloh (Situ Lengkong Pandjalu)
78. Embah Dalem (Wewengkon, Tjibubut Sumedang)
79. Embah Bugis (Kontrak, Tjibubut Sumedang)
80. Embah Sulton Malikul Akbar (Gunung RinggeungGarut)
81. Embah Dalem Kaum (Mesjid Limbangan Garut)
82. Mamah Sepuh (Pesantrean Suralaya)
83. Mamah Kiai Hadji Yusuf Todjiri (Wanaradja)
84. Uyut Demang (Tjikoneng Ciamis)
85. Regregdjaya (Ragapulus)
86. Kiai Layang Sari (Rantjaelat Kawali Ciamis)
87. Embah Mangun Djaya (Kali Serayu, Banjarnrgara)
88. Embah Panggung (Kamodjing)
89. Embah Pangdjarahan (Kamodjing)
90. Syekh Sukri (Pamukiran, Lewo Garut)
Wangsit dua
1. Embah Dipamanggakusumah (Munjul, Cibubur)
2. Aki Mandjana (Samodja, Kamayangan)
3. Eyang Raksa Baya (Samodja, Kamayangan)
4. Embah Dugal (Tjimunctjang (
5. Embah Dalem Dardja (Tjikopo)
6. Embah Djaengranggadisastra (Tjikopo)
7. Nyi Mas Larasati (Tjikopo)
8. Embah Dalem Warukut (Mundjul, Cibubur)
9. Embah Djaya Sumanding (Sanding)
10. Embah Mansur Wiranatakusumah (Sanding)
11. Embah Djaga Alam (Tjileunyi)
12. Sembah Dalaem Pangudaran (Tjikantjung Majalaya)
13. Sembah Dalem Mataram (Tjipantjing)
14. Eyang Nulinggih (Karamat Tjibesi, Subang)
15. Embah Buyut Putih (Gunung Pangtapaan, Bukit Tunggul)
16. Embah Ranggawangsa (Sukamerang, bandrek)
17. Eyang Yaman (Tjikawedukan, Gunung Ringgeung Garut)
18. Embah Gurangkentjana(Tjikawedukan, Gunung Ringgeung Garut)
19. Embah Gadjah Putih (Tjikawedukan Gunung Wangun)
20. Ratu Siawu-awu (Gunung Gelap, Pameungpeuk Sumedang)
21. Embah Mangkunegara (Cirebon)
22. Embah Landros (Tjibiru Bandung)
23. Eyang latif (Tjibiru Bandung)
24. Eyang Penghulu (Tjibiru Bandung)
25. Nyi Mas Entang Bandung (Tjibiru Bandung)
26. Eyang Kilat (Tjibiru Bandung)
27. Mamah Hadji Umar (Tjibiru Bandung)
28. Mamah Hadji Soleh (Tjibiru Bandung)
29. Mamah Hadji Ibrahim (Tjibiru Bandung)
30. Uyut Sawi (Tjibiru Bandung)
31. Darya Bin Salmasih (Tjibiru Bandung)
32. Mamah Hadji Sapei (Tjibiru Bandung)
33. Embah Hadji Sagara Mukti (Susunan Gunung Ringgeung)
34. Eyang Istri (Susunan Gunung Ringgeung)
35. Eyang Dewi Pangreyep (Gunung Pusaka PadangGarut)
36. Ratu Ayu Sangmenapa (Galuh)
37. Eyang Guru Adji panumbang (Tjilimus Gunung Sawal)
38. Eyang Kusumah Adidinata (Tjilimus Gunung Sawal)
39. Eyang Rengganis (Pangandaran Ciamis)
40. Ki Nurba’in (Sayuran, Gunung Tjikursi)
41. Buyut Dasi (Torowek Tjiawi)
42. Embah Buyut Pelet (Djati Tudjuh Kadipaten)
43. Embah Gabug (Marongge)
44. Eyang Djayalaksana (Samodja)
45. Nyi Mas Rundaykasih (Samodja)
46. Nyi Mas Rambutkasih (Samodja)
47. Eyang Sanghiang Bongbangkentjana (UjungSriwinangun)
48. Eyang Adipati Wastukentjana (Situ Pandjalu Ciamis)
49. Eyang Nila Kentjana (Situ Pandjalu, Ciamis)
50. Eyang Hariangkentjana (Situ Pandjalu Ciamis)
51. Embah Dalem Tjikundul (Mande Cianjur)
52. Embah Dalem Suryakentjana (PantjanitiCianjur)
53. Embah Keureu (Kutamaneuh Sukabumi)
54. Ibu Mayang Sari (Nangerang Bandrek Garut)
55. Eyang Prabu Widjayakusumah (Susunan Payung Bandrek Garut)
56. Embah Sayid Kosim (Gunung Alung Rantjapaku)
57. Embah Bang Sawita (Gunung Pabeasan LimbanganGarut)
58. Uyut Manang Sanghiang (Banten)
59. Eyang Ontjar (Nyampai Gunung Bungrangrang)
60. Eyang Ranggalawe (Talaga Cirebon)
61. Ibu Siti Hadji Djubaedah (Gunung Tjupu BanjarCiamis)
62. Mamah Sepuh ((Gunung Halu Tjililin Bandung)
63. Embah Sangkan Hurip (Ciamis)
64. Embah Wali Abdullah (Tjibalong Tasikmalaya)
65 Mamah Abu (Pamidjahan Tasikmalaya)
66. Embah Dalem Panungtung Hadji Putih Tunggang
Larang Curug Emas (Tjadas Ngampar Sumedang)
67. Raden AstuManggala (Djemah Sumedang)
68. Embah Santiung (ujung Kulon Banten)
69. Eyang Pandita (Nyalindung Sumedang)
70. Embah Durdjana (Sumedang)
71. Prabu Sampak Wadja (Gunung GalunggungTasikmalaya)
72. Nyi Mas Siti Rohimah/Ratu Liongtin (Jambi Sumatera)
73. Eyang Parana (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
74. Eyang Singa Watjana (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
75. Eyang Santon (Kulur Tjipatujah, tasikmalaya)
76. Eyang Entjim (Kulur Tjipatujah, Tasikmalaya)
77. Eyang Dempul Wulung (Djaga Baya Ciamis)
78. Eyang Dempul Walang (Djaga Baya Ciamis)
79. Eyang Giwangkara (Djaga Baya Ciamis)
80. Embah Wali Hasan (Tjikarang Bandrek, Lewo Garut)
81. Embah Raden Widjaya Kusumah (Tjiawi Sumedang)
82. Dalem Surya Atmaja (Sumedang)
83. Eyang Rangga Wiranata (Sumedang)
84. Eyang Mundinglaya Dikusumah (sangkan Djaya, Sumedang)
85. Eyang Hadji Tjampaka (Tjikandang, Tjadas Ngampar Sumedang)
86. Eyang Pangtjalikan (Gunung Ringgeung Garut)
87. Eyang Singa Perbangsa (Karawang)
88. Embah Djaga Laut (Pangandaran)
89. Raden Ula-ula Djaya (Gunung Ringgeung Garut)
90. Raden Balung Tunggal (Sangkan Djaya, Sumedang)

Keruhun dari Kerajaan Sumedang Larang
1. Pangeran Santri (Kusumahdinata I)
2. Prabu Geusan Ulun (Kusumahdinata II)
3. Pangeran Rangga Geumpol I (Kusumahdinata III)
4. Pangeran Rangga Gede (Kusumahdinata IV)
5. Pangeran Rangga Geumpol II (Kusumahdinata V)
6. Pangeran Rangga Geumpol III (Kusumahdinata VI)
7. Tumenggung Tanumaja
8. Pangeran Karuhun (Kusumah dinata VII)
9. Daleum Istri Radjaningrat
10. Daleum Anom (Kusumahdinata VIII)
11. Adipati Surianagara
12. Daleum Panungtung (Adipati Surialaga)
13. Daleum Tanubaya (Taschen Bestur)
14. Wedana Regent (Daleum Aria Satjaoati)
15. Pangeran Kornel (Kusumahdinata IX)
16. Daleum Agung (Adipati Kusumahyuda
17. Daleum Alit (Kusumahdinata X)
18. Daleum Suryadilaga
19. Pangeran Sugih (Suriakusumah Adinata I)
20. Pangeran Mekah (Surya Atmaja)
21. Daleum Bintang (Aria Kusumahdilaga)
22. Daleum Aria

Sang Guru Hyang & Da Hyang Sumbi
Dari cerita Wayang Purwa dikisahkan bahwa arti dari ;

Sang Hyang Guru

Batara Guru jatuh cinta kepada Batari Uma / Dewi Uma.
Batari Uma berobah menjadi Batari Durga & dikawini oleh Batara Kala.
Arti kata “Guru” adalah yang selalu bersinar / senantiasa menerangi / pemberi kebenaran. Sedangkan arti kata “Batara” ialah “yang menyampaikan (yang menyinari) gerak kehidupan”.
Dalam pikukuh Sunda keluhuran budi-pekerti & dharma bakti agung pada diri seseorang menyebabkan ia layak (disetarakan) sebagai sosok “Guru”. Adapun derajat yang tertinggi dan paling sepuh disebut Sang Guru Hyang (Sang Guriang) yang artinya adalah Saka Guru (Guru yang Tertinggi / Puncak tertinggi dari segala Guru / Cahaya) dan itu sama dengan Matahari disisi lain hal tersebut maknanya sama dengan “Sunda”.
Batari Uma (Ma / Umi / Ambu / Ibu / Umbi / Bumi) sesungguhnya merupakan pecahan dari Matahari (Batara Guru / Sunda), didapat dari hasil ledakan besar yang kemudian bergerak mengeliling Matahari menjadi bagian dari Tata-Surya(Solar System).
Batari Uma atau Dewi Uma pada mulanya bersinar terang seperti halnya Batara Guru, namun lama-kelamaan sinarnya semakin padam dan permukaannya berobah menjadi tanah yang bergelombang. Tentu saja hal tersebut akibat ia menjauh dari Matahari (Batara Guru), kejadian itu diumpamakan sebagai “kutukan” Batara Guru kepada Dewi Uma yang kemudian berobah nama menjadi Batari Durga yang buruk rupa.
Setelah Dewi Uma kehilangan cahaya dan menjadi Batari Durga maka ia dikawini oleh Batara Kala, yang artinya ialah terkena hukum “waktu” maka terjadilah peristiwa waktu & ruang di planet Bumi.
Waktu (Kala) ditentukan oleh Matahari
Ruang (Pa) ditentukan oleh Bumi

Namun demikan, walaupun Dewi Uma telah menjadi Batari Durga ia masih mengandung putra dari Batara Guru dan saat ini kita menyebutnya sebagai “Magma”(api yang ada di perut Bumi) yang kelak melahirkan berbagai jenis batuan serta unsur-unsur lainnya sebagai penunjang kehidupan para penduduk Bumi.
Peristiwa tersebut dalam Pikukuh Sunda diabadikan dengan sebutan Bua-Aci (‘buah’-aci) atau lebih dikenal sebagai Sang Hyang Pohaci, yang senantiasa memberikan kesuburan (*kehidupan) kepermukaan tanah. Dari sebutan atau ungkapan tersebut pada saat sekarang membuat kita mengenal istilah “buah” (*phala / pala / pahala) serta istilah “Bua-na” yang kelak berobah menjadi Banua (Benua).

Perobahan dari Dewi Uma menjadi Batari Durga (*karena tertutup tanah) menyebabkan perut Bumi harus dapat mengeluarkan panas Bumi (magma), maka lahirlah sebuah“cerobong raksasa” yang disebut sebagai Gunung Sunda (Gn. Batara Guru).
Da Hyang Sumbi
Pada dasarnya Dayang Sumbi itu berasal dari kata Da-Hyang - Su-Umbi , yang artinya :
Da = Agung / Besar
Hyang = Moyang / Eyang / Biyang / Leluhur / Buyut.
Su = Sejati
Umbi = Ambu / Ibu
Dayang Sumbi mengandung makna: Leluhur Agung Ibu Sejati atau setara dengan sebutan Buana / Ibu Pertiwi / Bumi / Earth.
Maka jika disimpulkan, kisah / legenda Sang Guru Hyang & Da Hyang Su Umbi itu lebih kurang memaparkan tentang kejadian / hubungan antara Matahari & Bumi, keberadaan “Waktu & Ruang” (Kala & Pa) dan khususnya berceritera tentang “awal kehidupan manusia di muka Bumi” yang intinya menyatakan bahwa “waktu & ruang merupakan hukum kehidupan”.

Situmang = Trisula Naga-Ra

Dalam kisah Sang Guru Hyang diceriterakan bahwa Dayang Sumbi pada akhirnya kawin (bersanding) dengan Situmang, yaitu seekor anjing yang membantu membawakan gulungan benang yang terjatuh ketika Dayang Sumbi sedang menenun. Perkawinan mereka menghasilkan sosok Sangkuriang (Sang Guru Hyang).
‘Sangkuriang’ atau sebut saja Sang Guru Hyang yang ke II ini maknanya adalah kelahiran Negeri Matahari (Dirgantara) sebagai pusat Keratuan / Keraton Dunia, atau kelahiran pola ketata-negaraan yang pertama di dunia yang ditandai oleh Gunung Sunda Purba atau Gn. Matahari / Gn. Batara Guru. Saat ini tersisa sebagai Gn. Tingkeban Pa-Ra-Hu, dan sekarang kita menyebutnya sebagai Gn. Tangkuban Parahu.

Setelah keberadaan wilayah beserta penduduknya, bentuk kemasyarakatan diawali dengan adanya Tata / Aturan / Hukum yang berupa Tri Su La Naga-Ra (Tiga Kesejatian Hukum pada sebuah Negara), atau dalam silib & siloka SITUMANG yaitu terdiri dari :
- Rasi / Datu berkedudukan sebagai pengelola kebajikan, wilayahnya disebut “Karesian / Kadatuan atau Kedaton”.
- Ratu berkedudukan sebagai pengelola kebijakan, wilayahnya disebut Keratuan / Keraton.
- Rama berkedudukan sebagai pembentuk kebijakan dan kebajikan, wilayahnya disebut “karamat” atau sering disebut sebagai “kabuyutan” atau wilayah para leluhur / luhur / gunung (*?) = (tanah suci).
- Hyang merupakan sumber ajaran kebijakan dan kebajikan, wilayahnya disebutPa-Ra-Hyang.

Adapun sosok binatang “anjing” merupakan metafora atau perumpamaan dari watak“kesetiaan”. Simbolisasi tersebut tentu sangat sesuai dengan kenyataan yang berlaku dan layak dipergunakan sebagai pola tanda seperti halnya Sang Hyang Gana (Ganesha) yang mempergunakan siloka “gajah”, ataupun konsep pemerintahan yang dilambangkan dalam bentuk “harimau” (mang / hitam – ang/merah – ung/putih = maung).

Pitutur Aki ‘Tirem’
Menyentuh jaman Saloka Nagara tentu tidak terlepas dari keberadaan Aki Tirem yangmempunyai makna sebagai berikut;
– Aki = Leluhur / Kokolot / Sesepuh / Tohaan / Tuhaan (‘Tuhan’).
– ‘Tirem’ = (............beberapa kemungkinan arti) :
Tarum / Taru-Ma (Kalpataru / pohon hayat / kehidupan).
Ti-Rum / Rumuhun
Ti-Ram / Rama
Jika “Tirem” itu adalah kata lain dari “Taru-Ma” (*taru = tree / pohon, dan ma = uma / bumi / ambu / ibu) maka istilah “Aki Tirem / Taruma” bisa mengandung makna sebagai “Pohon keluarga para leluhur Bumi”.

Tabe Pun, Rahayu Sagung Dumadi _/|\_


Salah satu bentuk menjaga warisan Leluhur
Kandaga Sunda
Masarakat adat leungiteun sumber kahirupanana, alatan lahanna geus dipimilik ku batur. Komunitas masarakat adat di nagara urang teu weleh aya dina nasib katalangsara. Padahal, masarakat adat sarta nu jadi hak-hakna, tah sakuduna mah bisa hirup kumbuh kalawan teungtrem. Meureun wajar dina mangsa penjajahan mah mun maranehanana teh katalangsara. Sabab, sakur jiwa ge ngalaman katalangsara. Tapi, kacida tragis mun nasib masarakat adat teu robah, tetep katalangsara, dina jaman urang geus merdeka. Kiwari, teu saeutik aya kajadian konflik antara masarakat adat jeung pihak-pihak nu ngaku geus miboga lahan masarakat adat. Nu ngaku miboga, ngarasa boga hak alatan dibekelan hak guna usaha (HGU). Sedengkeun masarakat adat satekah polah mertahankeun lahanna, nu dipercaya minangka warisan ti karuhunna. Antukna, prinsip masarakat adat nu basajan teh kaancam leungit nyanghareupan pihak-pihak nu hawek, nu ukur neang kauntungan wungkul. Kasarakahan maranehanana nu teu tanggungjawab tea, ngabalukarkeun katingtriman masarakat adat kaganggu jeung lingkungan jadi ruksak.



BÉWARA KANDAGA SUNDA

KAHIJI,
Réhna  ngalumangsungkeun adat budaya etnis di Indonesia ngarupakeun hiji kawajiban pamaréntah jeung masyarakat sacara babarengan dina koridor kabangsaan jeung kanagaraan,

Bahwa melestarikan adat budaya etnis di Indonesia merupakan kewajiban pemerintah dan masyarakat secara bersama-sama dalam koridor berbangsa dan bertanah air,

KADUA,
Réhna masyarakat Sunda  anu panghakna jeung pang wajibna dina ngalumangsungkeun adat budayana,

Bahwa masyarakat Sunda adalah yang paling berhak dan paling berkewajiban melestarikan adat budayanya,

KATILU,
Réhna  di jaman globalisasi ieu masyarakat Sunda siga nu leungiteun pangwanoh jeung kasaluyuan dina ngalumangsungkeun  adat budayana, 
Bahwa di jaman globalisasi ini masyarakat Sunda seperti kehilangan orientasi dan kebersamaan didalam melestarikan adat budayanya,


K
AOPAT,
Réhna dina upaya ngalumangsungkeun adat budaya Sundaminangka bagéan ti budaya nasional Indonesia diperelukeun hiji  sistem adat budaya anu aya gunana minangka  acuanbabarengan keur masyarakat Sunda,
Bahwa dalam upaya melestarikan adat budaya Sunda sebagai bagian dari budaya nasional Indonesia diperlukan suatu sistem adat budaya  yang berguna sebagai acuan bersama bagi masyarakat Sunda,



K
ALIMA,
Réhna kalayan ridho Allah Swt sarta rojongan kumnamasayarakat Sunda anu mikahayang  ayana upaya-upaya nyata dina ngalumangsungkeun adat budayana, ku jalaran kitu dina dinten ieu sim kuring saparakanca  saluyu keur ngabéwarakeun, ngahijikeun polah, jeung jeung sabilulungan ngancrubkeun diri kana hiji  sistem adat budaya anu diwastaan : KANDAGA SUNDA















Awal Kenegaraan Dunia “Layang Saloka Domas & Saloka Nagara”

Secara logika tentu awal keberadaan sebuah negara harus memenuhi beberapa syarat, yaitu : kepastian hukum, keberadaan wilayah, masyarakat, aparatur pemerintahan, serta pengakuan. Tanpa salah-satunya terpenuhi maka tidak layak disebut sebagai sebuah negara.

Maka demikian pula dengan kelahiran pemerintahan ditatar Sunda yang konon (*berdasarkan catatan sejarah yang ada hingga saat ini) diawali dengan adanya sebuah Keratuan yang bernama “Salokanagara / Salakanagara”. Tentu ‘kerajaan’ tersebut mustahil ada jika tidak diawali oleh adanya “nilai-nilai ajaran” yang menjadi sebuah peraturan / hukum. Itu sebabnya masyarakat kita mengenal istilah “Layang Saloka Domas” yang artinya :
- La = Hukum
- Hyang = Leluhur
- Sa = Esa / Tunggal / Satu
- Loka = Tempat / Wilayah
- Domas = Tidak Terhingga / invinity / 8
Arti keseluruhannya ialah : Kesatuan Wilayah Hukum Leluhur (yang) Tidak Terhingga.

Adapun Saloka Nagara pada dasarnya merupakan wilayah kekuasaan hukum yang sangat besar. Sa-Loka Naga-Ra (*Salaka Nagara ?) artinya adalah :
– Sa = Esa / Tunggal / Satu
– Loka = Tempat / Wilayah
– Naga = *...lambang penguasa darat & laut (samudra).
– Ra = Matahari
Saloka Naga-Ra berarti : Kesatuan Wilayah Kekuasaan Darat & Laut (negeri) Matahari.


Demikian artikel ini saya tulis, dan kepada generasi penerus lainnya, mohon diingatkan saya apabila dalam penyampaian dalam bentuk tulisan maupun dalam penyampaian kata ada yang salah sehingga mengandung arti dan makna yang tidak benar, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan ini dimaksud hanya salah satu bentuk saya untuk menghargai para leluhur yang sudah memberikan warisan dan amanah yang baik dan yang perlu kita jaga. Akhirnya sebagai penghargaan yang tinggi, moga Hyang Widi jagad Pangeran semesta alam, yang sudah menciptakan langit dan bumi, kersa ning pangampura kepada para leluhur dan keruhun yang sudah mendedikasikan ilmu dan amalan yang baik dan sudah menjaga bumi pasundan ini, dan semoga langgeng tanah sunda dan tatarannya hingga akhir suatu masa. Amiin.

Edit ; wawansurya
Sumber;
cechgentong.multiply.com
saduran dari tulisan LQ Hendrawan
http://www.affiliate-waones.com

Artikel Menarik Lainnya :



No comments:

Post a Comment